Balada Desa Sunyit Sebuah Cerita Pendek

Balada Desa Sunyit Sebuah Cerita Pendek...

Sastra bahasa Indonesia pada bacaan di atas merupakan sebuah cerita pendek dengan judul / tema tentang Balada Desa Sunyit. Deskripsi dan pesan pada cerpen di bawah ingin menyampaikan kepada pembaca bahwa terkadang yang dicari manusia hanyalah merupakan pepesan kosong belaka. Untuk lebih jelasnya mari ikuti alur cerita di bawah ini : 

Desa Sunyit gempar! Tadi pagi ditemukan sesosok mayat terkapar di pematang sawah. Mayat yang tanpa identitas tersebut terbaring kaku dengan badan setengah terendam, kakinya mengangkang lebar, tangannya memeluk buntalan besar yang ternyata adalah uang yang sangat banyak, ekspresinya datar bahkan terkesan dingin, sedingin suasana subuh di desa itu. Menilik dari kepalanya yang sudah enggan untuk ditumbuhi rambut lagi, sepertinya mayat itu sudah cukup merasakan pahit getirnya kehidupan. Rambut-rambut halus juga nangkring indah di sekitar wajahnya yang tak terlalu menarik.

Amri, buruh tani yang hendak menyiangi rerumputan menemukan mayat itu, dan menurut pengakuannya ia belum menyentuh tubuh kaku itu sedikitpun. Kemudian ia melaporkan hasil temuannya itu kepada aparat desa. Siang itu desa Sunyit dipenuhi oleh orang-orang dengan pakaian gagah yang sesekali sibuk menempelkan benda hitam kecil berdesir pelan ke telinga mereka sambil menampakkan ekspresi yang beragam pula. Cahaya-cahaya menyilaukan yang memancar dari kamera berbagai tipe seakan hendak bersaing dengan indahnya cahaya mentari. Amri jadi bintang dadakan, ia dikerumuni, ditanyai bahkan begitu banyak yang menyalaminya, bahkan tersebar isu bahwa ia akan masuk TV dan bisa jadi nantinya akan jadi bintang iklan atau bahkan jadi pemain sinetron.

Wwuuiihhh, luar biasa! Ternyata mayat itu adalah warga desa Sunyit yang telah lama pergi mengadu peruntungan ke tanah tuan-tuan. Kedatangannya kembali ke desa Sunyit hanyalah untuk menghabiskan sisa hidup dan uang di tanah kelahirannya. Namun sayang, walaupun hidupnya telah usai uang itu masih belum habis. Berdasarkan kesepakatan pihak-pihak berwenang akhirnya uang itu menjadi hak milik desa Sunyit untuk digunakan sebagai perangkat pembangunan desa.

Rokib, yang menjadi Kaur pembangunan menerima uang sebesar lebih dari satu milyar tersebut dan berjanji akan menggunakan uang itu dengan sebaik-baiknya. Sebulan kemudian desa Sunyit mengalami perubahan drastis yang sangat dramatis. Jalan-jalan licin beraspal, lantunan adzan dan ayat-ayat suci yang bergema indah setelah mendapat sentuhan halus dari sound system super canggih, bangunan-bangunan kokoh tempat aparat bertugas memenuhi pinggiran jalan utama, bahkan beberapa kendaraan roda dua maupun empat sudah mulai terlihat memenuhi jalan.

“Pak, untung juga ya ada orang kaya yang kedapatan mati di kampung kita,” Suminah, istri Rokib bertutur pada suaminya.

“Iya juga sih, pembangunan di desa kita dapat terlaksana, Amri sekarang telah menjadi bintang iklan dari produk alat pertanian terkenal, bahkan kudengar ia sudah mulai menjadi pemain figuran dalam beberapa sinetron,” balas Rokib.

Tak seorangpun di desa Sunyit yang mengingkari fakta bahwa kematian Ruslan Jailani perantau kaya asal desa itu memberikan begitu banyak keberuntungan. Dan setiap dari mereka memuji rasa solidaritas Rokib yang mampu memanajemen uang hadiah itu dalam bentuk proyek-proyek yang didapat oleh semua keluarga di desa Sunyit. Tak ada lagi bangun di pertiga malam untuk menoreh pohon karet, berjemur diterik mentari untuk menyiangi rumput, berkelahi dengan burung-burung nakal yang mencoba mengutil padi mereka, menyingkirkan benda-benda yang menyumbat saluran pengairan dan hal-hal lain yang melelahkan, semuanya berganti dengan alunan musik, karaoke yang mengalun syahdu sambil sesekali menyentak-nyentak, siaran televisi dari berbagai saluran di bawah naungan parabola besar dan gagah, dering handphone yang disengaja karena sinyal jenis apapun belum sempat menjamah daerah ini dan kesibukan-kesibukan lain yang mengharuskan mereka mengenakan pakaian yang rapi dan mungkin sedikit glamour.

Dua bulan, tiga bulan, enam bulan hal itu masih terus berlangsung hingga memasuki bulan ketujuh, namun di penghujung bulan itu guratan resah mulai menghiasi kening-kening penduduk desa Sunyit. Amri sudah lupa dengan desanya, dan uang ‘warisan’ itu juga hampir ludes. Namun guratan kening itu tak mampu bertengger lama, karena pagi pertama di bulan ke delapan ditemukan sesosok mayat terkapar di sawah yang telah kering. Mayat itu bertubuh sedang, mengenakan topi pet hitam yang sudah lusuh, kacamata hitam yang masih melekat di wajahnya merupakan pertanda bahwa ia meninggal di siang hari atau paling tidak, saat menjelang ajal matahari masih bersinar di atasnya, dan yang lebih teristimewa mayat itu memeluk buntelan yang lebih besar dari pada milik almarhum Ruslan Jailani!

Septi, seorang gadis manis yang menemukan mayat itu tampak berdiri di tengah kerumunan orang yang ramai ingin menyaksikan mayat itu. Beberapa orang dengan kamera dan mic di tangan berebutan mendekat ke arah Septi. Namun kali ini desa Sunyit tidak gempar.

“Dia adalah Iskandar Murikan, seorang penduduk desa Sunyit yang merantau ke tanah tuan-tuan. Sepertinya ia ingin menikmati hasil jerih payahnya di desa ini!” teriak Rokib lantang, menuntaskan keingintahuan mereka yang berkerumun.

“Baiklah, kalau memang ia adalah penduduk desa ini maka buntelan besar ini menjadi milik desa untuk digunakan sebagaimana mestinya.” Pimpinan tertinggi aparat keamanan itu berteriak dengan serak dan di sambut oleh tepuk tangan riuh seluruh warga desa. Pimpinan tertinggi itu lalu mendekat ke arah Rokib, dengan perlahan ia mendesis, “Ehm, Bung Rokib, jangan lupakan saya.” Kalimat pendek yang meluluhlantakkan semua kecongkakan dan di sambut anggukan penuh senyum oleh Rokib.

Desa Sunyit kembali bergairah, proyek-proyek besar dengan total nilai di atas lima milyar yang di danai oleh Iskandar Murikan telah memberikan mereka kesibukan sekaligus kesenangan. Dering handphone kali ini tanpa rekayasa, karena beberapa penyedia jasa telah mengudarakan sinyal dan gelombang mereka. Sebuah lahan persawahan telah dipatok dan dikelilingi pagar seng, karena di situ akan dibangun pusat perbelanjaan dan hampir setiap sisi pembangunan mampu disentuh oleh kecerdasan Rokib. Septina menjadi bintang sinetron yang meroket, bahkan terdengar kabar pula bahwa ia akan ikut bermain dalam beberapa film luar negeri.

“Pak, untung juga ya ada orang kaya yang kedapatan mati di kampung kita, tapi apa benar Iskandar Murikan itu adalah penduduk desa Sunyit?” Suminah, istri Rokib bertanya pada suaminya.

Rokib memandang Istrinya yang semakin kelihatan lebih cantik, kemudian tersenyum dan berlalu tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Keberuntungan Desa Sunyit yang memiliki banyak perantau ke tanah tuan-tuan menyebabkan iri beberapa desa lain. Taruhlah Desa Kembang yang dulunya lebih maju dan konsisten untuk menjadikan desa mereka tetap sebagai penghasil gabah terbaik, sekarang sibuk menginventaris warga desanya yang pergi merantau, apakah mereka akan pulang? Atau apakah mereka telah berhasil?

Dua bulan, tiga bulan, enam bulan hal itu masih terus berlangsung hingga memasuki bulan ke tujuh, namun di penghujung bulan itu guratan resah mulai menghiasi kening-kening penduduk desa Sunyit. Septi telah dinikahi oleh seorang aktor asing, sehingga tak mungkin lagi ia ikut mempopulerkan desanya, dan uang ‘warisan’ dari Iskandar Murikan juga hampir ludes. Namun guratan kening itu tak mampu bertengger lama, karena pagi pertama di bulan ke delapan ditemukan sesosok mayat terbujur kaku di antara tiang-tiang beton gedung pusat perbelanjaan yang baru setengah jadi.

Mayat itu mengenakan kemeja bersih berwarna biru muda, di saku atasnya menyembul dasi yang terkesan dimasukkan dengan tergesa, sepatu pancusnya sama mengkilat dengan dua buah cincin ditangannya. Sebuah senyuman masih tersisa di ujung bibirnya. Namun yang membuat mayat itu menjadi lebih istimewa lagi adalah dua buah buntelan yang masing – masingnya lebih besar dari pada milik Iskandar Murikan. Dan sekali lagi, Desa Sunyit tak gempar.

Hanafi, laki-laki separuh baya yang menemukan mayat itu, terlihat sibuk sekali. Berbicara sambil melebarkan mulutnya sebesar mungkin agar mereka tahu bahwa ia memiliki gigi yang indah, kadang ia tertawa terbahak namun kadang langsung sedih dengan penuh cucuran air mata, ia mampu merubah emosinya dengan cepat! Begitu yang ingin ia tunjukkan kepada para pencari bakat bintang sinetron. Segala macam jenis aparat telah berkumpul, warga desa tadinya riuh mendadak senyap ketika melihat Rokib datang bersama pimpinan tertinggi aparat kemanan disana. Jantung mereka berdegup keras. Bayangkan, dua buntelan besar!

Dengan wajah sedih Rokib mulai membuka bibirnya, “Dia adalah Julham Efendi! Warga desa Sunyit yang telah lama merantau ke tanah tuan-tuan, kedatangannya ke sini…,”

“Tunggu…! Tunggu…!” Sebuah teriakan tak kalah nyaring dari segerombolan orang yang mulai mendekat memotong dan menghentikan alunan kata Rokib.

“Dia Arham Junaidi! Warga desa Kembang yang telah lama merantau ke desa Sunyit, berganti nama kemudian pindah ke tanah tuan-tuan! Kami ada buktinya!” Warga desa Kembang berbondong datang.

Kali ini Desa Sunyit gempar menggelegar. Mereka tidak terima! Mayat itu milik mereka. Terjadi perdebatan seru antara kedua warga desa itu, hingga akhirnya pimpinan tertinggi aparat kemanan menengahi mereka.

“Tunggu! Tunggu, sepertinya aku bisa memastikan siapa dan dari mana mayat ini berasal.”

Warga desa Sunyit menghela nafas lega. Rokib yang sempat memanas langsung tersenyum ramah. Warga desa Kembang tetap tidak terima, berteriak dan mengeluh kecewa hingga akhirnya semua teriakan dan keluhan itu berhenti sama sekali ditelan oleh kerasnya letusan dari puluhan senjata. Pimpinan tertinggi mendekati mayat, membuka dua kancing baju atas mayat tersebut, kemudian berteriak histeris, “Dia…. Dia…. Adikku… Adikku yang telah lama hilang, lihat ke sini, dia memiliki dua buah tahi lalat di dadanya, sama dengan kepunyaanku!” Pimpinan itu membuka seluruh bajunya sambil memperlihatkan tahi lalat besar yang ada di dadanya. Warga kedua desa mencoba melihat dengan seksama dada itu, tapi mereka hanya menemukan satu tahi lalat yang nangkring dengan kurang ajar di atas pentil sebelah kirinya.

“Bapak hanya punya satu tahi lalat. Bapak hanya punya satu tahi lalat!” Teriakan riuh tak puas kembali menggema. Namun sayang teriakan riuh kembali tenggelam oleh nyanyian letusan senjata terpanggul. Dengan tenang pimpinan itu mendekati bocah yang memegang erat tas sekolahnya, merampas tas itu, mengeluar spidol kecil untuk menggambar dan mulai mengukir tahi lalat baru yang jauh lebih indah di atas pentil kanan dadanya.

“Lihat, lihat. Aku punya dua tahi lalat.” Warga kedua desa hanya tertunduk dan terdiam, mereka pergi dan berlalu membiarkan anak buah pimpinan tertinggi membawa mayat dan kedua buntelannya ke dalam ambulan. Di hadapan anak buahnya, dengan senyum yang terus tersungging ia mulai membuka kedua buntelan itu. Namun yang ia dapati hanyalah kertas! Kertas-kertas putih dengan tulisan tangan yang bak cakar ayam, tapi terbaca cukup jelas isinya: Anda Belum Beruntung!***

Balada Desa Sunyit Sebuah Cerita Pendek Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Asep Iwan